Buat apa Sumpah Mahasiswa? Masih relevankah?

Karya Murahan - Serangkaian penyambutan mahasiswa baru sudah selesai. Saat ini perkuliahan sudah mulai aktif, bahkan sudah sekitar separuh semester. Sering kita dengar di beberapa tempat, bahwa masa orientasi mahasiswa baru pasti sudah diskenario sedemikian rupa sehingga kegiatan tersebut menjadi menyenangkan, berkesan, menegangkan, atau bahkan ketiga-tiganya. Sebagai seorang mahasiswa, kita pernah merasakan sebagai mahasiswa baru yang dilatih kedisiplinan dan juga dikenalkan makna sebagai seorang Maha-Siswa. Diberi pengertian tentang Agent of Change, Social Control, Iron Stock, dan tentu yang tidak ketinggalan adalah Sumpah Mahasiswa. Ya, sumpah yang sering diteriakkan ketika di masa orientasi secara bersama-sama dengan seruan, “ayo kita getarkan gedung-gedung kampus .......” atau “ayo kita getarkan kaca-kaca gedung ......”.




Tiga bait sakral yang dulu digunakan untuk mengobarkan api perjuangan mahasiswa ketika ingin menggulingkan rezim yang sudah menjadi nahkoda selama 32 tahun.  Sebenarnya apa maksud dan tujuan melafalkan Sumpah Mahasiswa di setiap masa orientasi? Apakah hanya karena sudah seperti itu setiap tahunnya? Dan apa kabar mahasiswa sekarang yang dulu sudah meneriakkan Sumpah?

Pada akhirnya, sebagian orang hanya menganggap bahwa Sumpah Mahasiswa adalah sebuah kata tanpa makna. Hanya sedikit dari mahasiswa yang peduli dengan kondisi bangsa dan lebih memilih tidur tanpa mau keluar melihat keprihatinan bangsa. Justru saat ini, mahasiswa lebih banyak bersikap apatis terhadap isu-isu disekitar kita. Peristiwa pada akhir bulan September 2019 lalu seperti mengulang kejadian yang terjadi pada tahun 1998, Sumpah Mahasiswa kembali diteriakkan di jalanan. Mahasiswa bersama-sama turun untuk memperjuangkan keadilan. Gelora ’98 telah terjadi beberapa hari di berbagai tempat. Tetapi lagi dan lagi, Sumpah hanyalah sumpah. Aksi yang seharusnya menjadi kesempatan mahasiswa untuk menyampaikan pendapat, malah dimanfaatkan sebagai ajang eksistensi diri. Bisa kita rasakan saat ini, bahwa semangat yang berapi-api pada akhir September 2019 lalu sudah meredam. Kini mahasiswa sudah kembali ke ruang kelas masing-masing dan sepertinya sudah tidak ada ghiroh untuk kembali mengosongkannnya.

Masih relevankah ketika sumpah itu terus diucapkan ketika kemajuan teknologi sudah merubah kehidupan manusia lebih instan dan lebih mudah terlarut dalam zona nyaman. Harus berapa kali mengucapkan sumpah untuk bisa memaknainya. Atau sebenarnya Sumpah Mahasiswa hanyalah sebuah karangan biasa tanpa makna?. Apakah perlu adanya Sumpah Mahasiswa Milenial untuk menumbuhkan jiwa perjuangan dan perlawanan atas ketidakadilan di era milenial?


Sudah saatnya mahasiswa bertaubat atas pengkhianatan amanah perjuangan dan sumpahnya. Begitu juga dengan mahasiswa yang menjadi imam dalam melafalkan kalimat-kalimat sumpah, mereka juga belum tentu selesai dalam memaknai ucapanya dan yang terjadi adalah Sumpah hanyalah tinggal Sumpah. Maka sebenarnya dari mana harus memulai kalau imam dan makmum sama-sama tidak memaknai sumpah yang sudah diucapkan. Untukmu Sindiranku, Untukku Sindiranku.

No comments for "Buat apa Sumpah Mahasiswa? Masih relevankah?"